Inggris Pertimbangkan Aturan Pembatasan COVID-19 Bagi Pelancong China

Inggris sedang mempertimbangkan untuk memberlakukan melakukan pembatasan COVID-19 bagi pendatang dari China, termasuk menerapkan kewajiban tes.

Pejabat dari Departemen Transportasi, Kantor Dalam Negeri dan Departemen Perawatan Kesehatan dan Sosial (DHSC) diperkirakan akan memutuskan penerapan aturan tersebut hari ini.

“Apakah Inggris harus mengikuti Amerika Serikat dan Italia dalam memberlakukan pembatasan COVID untuk pelancong dari China,” kata laporan itu, dikutip dari NST.com.my, Kamis (29/12/2022).

Juru bicara Perdana Menteri mengatakan sebelumnya pada Rabu (28/12) bahwa pembatasan itu “bukan sesuatu yang kami inginkan”, tambah laporan itu.

DHSC tidak segera menanggapi permintaan untuk mengomentari laporan tersebut.

Sementara itu, Amerika Serikat kemungkinan akan memberlakukan aturan COVID-19 baru bagi pelancong dari China karena kekhawatiran tentang “kurangnya data transparan” dari Beijing, kata pejabat AS pada Selasa (27/12).

Langkah itu dilakukan setelah Jepang, India, dan Malaysia mengumumkan peningkatan aturan bagi pelancong dari China dalam 24 jam terakhir, dengan alasan peningkatan infeksi di sana.

Jepang mengatakan akan memerlukan tes COVID-19 negatif pada saat kedatangan untuk pelancong dari China.

Sementara itu, Malaysia telah menerapkan langkah-langkah pelacakan dan pengawasan tambahan.

“Ada kekhawatiran yang meningkat di komunitas internasional tentang lonjakan COVID-19 yang sedang berlangsung di Tiongkok dan kurangnya data transparan, termasuk data sekuens genomik virus, yang dilaporkan dari RRT,” kata pejabat tersebut.

Beberapa rumah sakit dan rumah duka di China telah kewalahan karena virus menyebar tanpa terkendali di seluruh negara berpenduduk 1,4 miliar orang itu.

Namun, statistik resmi menunjukkan hanya satu kematian akibat COVID-19 dalam tujuh hari hingga Senin, memicu keraguan di antara pakar kesehatan dan penduduk tentang data pemerintah.

Angka-angka tersebut tidak konsisten dengan pengalaman negara-negara yang jauh lebih sedikit penduduknya setelah dibuka kembali.

China mengatakan pada Senin kemarin bahwa pihaknya akan berhenti mewajibkan pelancong yang datang untuk melakukan karantina mulai 8 Januari dalam langkah besar menuju pelonggaran pembatasan di perbatasannya, yang sebagian besar telah ditutup sejak 2020.

Jepang Pantau Kedatangan dari China

Pemerintah Jepang mengaku bingung dengan data COVID-19 dari China. Alhasil, para pendatang dari Negeri Tirai Bambu itu harus tes COVID-19 jika ingin masuk Negeri Sakura.

Kasus COVID-19 di China saat ini memang sedang meroket. Dikhawatirkan kasus bisa tembus 2 juta sehari pada sekitar tahun baru 2023. Jepang lantas mencoba menahan lonjakan masuk kedatangan dari China.

Berdasarkan laporan Kyodo, Rabu (28/12/2022), aturan untuk warga China Daratan ini berlaku pada Jumat 30 Desember 2022. Warga yang baru mengunjungi China selama tujuh hari terakhir juga harus dites.

“Kekhawatiran telah muncul di Jepang sebab sulit untuk memahami situasi yang detail (di China),” ujar Perdana Menteri Jepang Fumio Kishida. Ia menyorot perbedaan angka resmi pemerintah dan data swasta.

WHO juga telah menyampaikan kekhawatiran mengenai data COVID-19 dari pemerintah China.

Pembatasan di Jepang akan difokuskan pada empat bandara yang memiliki penerbangan langsung ke China Daratan, Hong Kong, dan Macau, yakni Bandara Narita, Haneda, Kansai, dan Chubu. Para maskapai juga diminta tidak menambah penerbangannya.

Tak hanya itu, pemerintah Jepang meminta Cathay Pacific Airlines, Hong Kong Airlines, dan Hong Kong Express Airways agar menahan penerbangan antara Hong kong dan Sapporo, Fukuoka, dan Nara pada Jumat besok.

Pemerintah China pun tidak senang terhadap kebijakan Jepang ini yang dinilai mengganggu hubungan kedua negara. Pihak China menilai kebijakan COVID-19 seharusnya moderat dan tak mengganggu kunjungan warga.

Saat ini, Jepang telah melonggarkan aturan masuk bagi pendatang dengan syarat menunjukkan tiga bukti vaksinasi atau sudah tes dalam 72 jam terakhir.

 

 

 

 

Sumber : liputan6.com
Gambar : Antara News

BAGIKAN BERITA INI

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *