Rupiah Melemah ke Rp14.984 per Dolar AS Dibayangi Inflasi Juni

Nilai tukar rupiah berada di posisi Rp14.984 per dolar AS di perdagangan pasar spot pada Senin (11/7) pagi. Mata uang Garuda melemah 5 poin atau 0,03 persen dari posisi sebelumnya.

Mata uang di kawasan asia terpantau bervariasi. Yen Jepang melemah 0,61 persen, dolar Singapura melemah 0,13 persen, won Korea Selatan melemah 0,04 persen. Namun, peso Filipina menguat 0,07 persen.

Sementara, yuan China melemah 0,09 persen, ringgit Malaysia menguat 0,04 persen, baht Thailand melemah 0,22 persen, dan dolar Hong Kong melemah 0,01 persen.

Sedangkan, mata uang utama negara maju terpantau kompak berada di zona merah. Euro Eropa melemah 0,45 persen dan poundsterling Inggris melemah 0,41 persen.

Dolar Australia melemah 0,51 persen, dolar Kanada melemah 0,20 persen, franc Swiss melemah 0,24 persen dan rubel Rusia melemah 0,49 persen.

Analis DCFX Lukman Leong sudah memperkirakan pada pembukaan awal pekan ini mata uang garuda bakal kembali terdepresiasi. Setelah sebelumnya sempat menguat meski tipis.

“Rupiah diperkirakan kembali tertekan di tengah sentimen risk off di pasar, dengan pelaku pasar mengantisipasi rilis data inflasi AS pasa Rabu (9/7) yang diperkirakan kembali naik,” ujarnya kepada CNNIndonesia.com.

Sedangkan sentimen dari dalam negeri masih cukup baik, karena cadangan devisa per akhir Juni yang kembali naik. Selain itu, neraca dagang diperkirakan tetap surplus di bulan ini.

Namun, disisi lain ada sentimen dalam negeri yang kurang baik, yakni tekanan inflasi dan kenaikan kasus harian covid-19 yang terus meningkat. “Inflasi dan covid-19 yang meningkat membebani rupiah,” terang dia.

Lukman memperkirakan hari ini rupiah akan berada di kisaran Rp14.925 per dolar AS hingga Rp15.050 per dolar AS.

 

 

 

 

 

Sumber : cnnindonesia.com
Gambar : katadata

BAGIKAN BERITA INI

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *