Indeks Dolar AS Ambrol, Rupiah Siap Tembus Rp 14.300/US$

Rupiah sukses menguat dua hari beruntun melawan dolar Amerika Serikat (AS) Rabu kemarin, bahkan menjadi yang terbaik di Asia dengan penguatan 0,35% ke Rp 14.345/US$. Pada perdagangan hari ini, Kamis (10/3) rupiah berpeluang kembali menguat melihat indeks dolar AS yang jeblok.

Melansir data Refinitiv, indeks yang mengukur kekuatan dolar AS tersebut kemarin merosot hingga 1,1% ke 97,96, akibat sentimen pelaku pasar yang membaik. Aset-aset berisiko kemarin melesat setelah harga minyak mentah berbalik turun tajam.

Uni Emirat Arab dan Irak menyatakan akan mendukung kenaikan produksi minyak mentah OPEC guna mengimbangi gangguan supply dari Rusia. Hal tersebut membuat harga minyak mentah seketika anjlok, minyak jenis Brent bahkan sempat minus hingga 17%.

Turunnya harga minyak mentah disambut baik pelaku pasar, sebab bisa mengurangi tekanan inflasi yang membuat sentimen pelaku pasar membaik dan kembali ke aset-aset berisiko.

Seperti di ketahui negara Barat sedang menghadapi inflasi yang tinggi yang bisa semakin terakselerasi jika harga minyak mentah dan komoditas energi lainnya terus.

Secara teknikal, rupiah yang disimbolkan USD/IDR sukses menguat 2 hari beruntun dan saat ini berada persis di rerata pergerakan 50 hari (Moving Average 50/MA 50).

Artinya rupiah masih tertahan di atas dan MA 200, yang membuat pola Golden Cross masih berlaku.

Golden Cross merupakan perpotongan antara rerata MA 50, dengan MA 200 dari bawah ke atas. MA 50 sebelumnya juga sudah memotong MA 100.

Golden Cross bisa menjadi sinyal berlanjutnya kenaikan USD/IDR yang berarti pelemahan rupiah. Dengan kata lain, Golden Cross yang muncul merupakan Death Cross (palang kematian) bagi rupiah. Artinya jika tertahan di atas MA 200 maka rupiah ke depannya berisiko melemah.

Tekanan bagi rupiah semakin besar setelah membentuk pola White Marubozu pada perdagangan Rabu (2/3).

Suatu candle stick dikatakan membentuk pola White Marubozu ketika harga open sama dengan low dan close sama dengan high.

White Marubozu merupakan sinyal nilai suatu aset akan kembali bergerak naik, secara psikologis menunjukkan aksi beli mendominasi pasar.

Sementara itu indikator Stochastic pada grafik harian akhirnya keluar dari wilayah jenuh beli (overbought).

Stochastic merupakan leading indicator, atau indikator yang mengawali pergerakan harga. Ketika Stochastic mencapai wilayah overbought (di atas 80) atau oversold (di bawah 20), maka harga suatu instrumen berpeluang berbalik arah.

Artinya, ketika Stochastic belum mencapai wilayah overbought maka belum ada sinyal pembalikan arah alias penguatan rupiah.

Rupiah kini berada di kisaran support Rp 14.320/US$ hingga Rp 14.345/US$ yang merupakan MA 200 dan MA 50. Untuk menguat lebih lanjut, rupiah perlu melewati support tersebut dengan target terdekat di Rp 14.300/US$ hingga Rp 14.290/US$.

Sebaliknya selama tertahan di atas support, rupiah berisiko melemah ke Rp 14.380/US$. Resisten selanjutnya berada di kisaran Rp 14.400/US$ hingga Rp 14.410/US$.

 

 

 

 

Sumber : cnnindonesia.com
Gambar : Bisnis.com

BAGIKAN BERITA INI

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *