Bikin Panik! Harga Emas di Bawah US$ 1.800, Harus Bagaimana?

Minggu lalu pelaku pasar meyakini harga emas bakal mengalami kenaikan. Namun nyatanya yang terjadi justru sebaliknya. Lantas bagaimana dengan prospek harga emas untuk pekan ini?

Di awal pekan Senin (30/11/2020), harga emas masih lanjut terkoreksi. Pada 08.50 WIB, harga logam kuning itu di arena pasar spot turun 0,31% dibanding posisi penutupan akhir pekan lalu ke US$ 1.782,7/troy ons.

Harga emas telah turun dari level supportnya di US$ 1.800/troy ons. Pada periode 23-27 November lalu, harga bullion telah ambles 2,6% secara point to point. Secara month to date, emas telah ambles 5,11%.

Survei yang dilakukan oleh Kitco terhadap para analis dan pelaku pasar menunjukkan bahwa sentimen terhadap emas sedang negatif. Total ada 15 analis Wall Street yang disurvei, hasilnya sebanyak 6 analis memandang bullish harga emas pekan ini. Ada delapan analis yang meramal harga emas bakal turun dan sisanya netral.

Artinya mayoritas analis Wall Street atau sekitar 53% mulai melihat prospek emas meredup. Meskipun survei yang dilakukan terhadap Main Street masih didominasi oleh sentimen positif terhadap emas, tetapi kurang dari 50% responden yang masih optimis harga emas masih akan bullish di minggu ini.

Berita positif soal perkembangan kandidat vaksin Covid-19 yang datang bertubi-tubi telah membuat harga emas tertekan. Investor dan trader beralih dari yang sebelumnya cenderung menghindari risiko (risk averse) kini menjadi lebih berani memburu risiko (risk on).

Alhasil emas sebagai aset minim risiko (safe haven) cenderung dilego dan harganya ambles. Investor kini lebih memilih aset-aset ekuitas yang lebih berisiko tetapi memberikan cuan yang lebih tebal.

Optimisme vaksin Covid-19 juga mendorong optimisme bahwa perekonomian on track dalam periode pemulihan, meski realitanya vaksin tak serta merta membuat ekonomi langsung bisa digeber seperti sedia kala.

Namun dengan adanya optimisme tersebut harapan bahwa stimulus masih akan digelontorkan oleh pemerintah dan bank sentral serta suku bunga acuan akan ditahan di zero lower bound untuk jangka waktu lama terkikis. Inilah yang membuat harga emas semakin tertekan.

Di sisi lain faktor musiman (seasonality) juga menjadi pemicu tertekannya harga emas. Menjelang akhir tahun biasanya harga emas memang cenderung terkoreksi.

Jika berkaca pada kondisi sekarang sebenarnya fundamental emas masih kuat yaitu imbal hasil riil yang negatif hingga dolar AS yang melemah. Namun karakteristik pasar adalah forward looking alias melihat ke depan.

Apabila semakin banyak pelaku pasar yang memprediksi pemulihan ekonomi bakal terjadi lebih cepat dari perkiraan awal dan vaksin segera akan didistribusikan maka harga emas bisa benar-benar rontok.

 

 

 

Sumber : cnbcindonesia.com
Gambar : CNBC Indonesia

BAGIKAN BERITA INI

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *