Bank Sentral Tiongkok Berhati-Hati Longgarkan Kebijakan di Tengah Risiko Stagflasi

Bank sentral Tiongkok kemungkinan bergerak dengan hati-hati dalam melonggarkan kebijakan moneter untuk mendorong perekonomian. Pasalnya perlambatan pertumbuhan ekonomi dan melonjaknya inflasi pabrik memicu kekhawatiran atas stagflasi.

Mengutip Channel News Asia, Selasa, 9 November 2021, momentum pemulihan sudah goyah di ekonomi terbesar kedua di dunia itu karena pembatasan baru untuk mengendalikan wabah covid-19, kekurangan listrik yang melanda pabrik, dan krisis utang di sektor real estat, di antara faktor-faktor lain yang telah menghentikan aktivitas.

Menurut sumber yang terlibat dalam diskusi kebijakan internal, peluang penurunan suku bunga terlihat tipis, tetapi bank sentral dapat memilih untuk memotong jumlah uang tunai yang harus dimiliki bank sebagai cadangan terhadap pinjaman mereka jika pertumbuhan menderita.

Pertumbuhan ekonomi Tiongkok diperkirakan melambat lebih lanjut pada kuartal keempat dari level terendah satu tahun di 4,9 persen pada kuartal ketiga. Aktivitas pabrik menyusut untuk bulan kedua di Oktober, sebuah survei resmi menunjukkan, sementara pertumbuhan output pabrik turun ke level terendah sejak Maret 2020.

Kondisi itu terjadi karena pembatasan lingkungan, penjatahan listrik, dan harga bahan baku yang lebih tinggi. Sedangkan People’s Bank of China (PBOC) telah menentang ekspektasi pasar untuk memotong suku bunga atau rasio persyaratan cadangan bank (RRR), setelah pemotongan RRR pada Juli, dengan fokus pada deleveraging dan menangkis gelembung properti.

Beberapa ekonom mengira bank sentral dapat memangkas suku bunga tahun ini tetapi sekarang merasa stagflasi -kenaikan harga dikombinasikan dengan pengangguran yang tinggi dan permintaan yang lemah- menjadi perhatian.

Sebuah jajak pendapat menunjukkan, inflasi harga produsen telah meningkat sejak Juli, dan kemungkinan lebih lanjut meningkat menjadi 12,4 persen pada Oktober, yang akan menjadi yang tertinggi sejak Oktober 1995.

Penurunan kebijakan Federal Reserve AS tidak mungkin berdampak banyak pada PBOC, yang mengarahkan kebijakan terutama berdasarkan prospek pertumbuhan dan inflasi Tiongkok. “Ada ruang untuk pemotongan suku bunga dan RRR, tapi ruang itu bisa dibatasi oleh kenaikan harga produk,” pungkas seorang sumber.

 

 

 

 

 

Sumber : medcom.id
Gambar : MSN

BAGIKAN BERITA INI

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *