Harga Minyak Kian Ambles, Negosiasi AS-Iran Masih ‘Panas’

Harga minyak dunia tertekan pada Selasa (29/6/2021) di tengah antisipasi pelaku pasar atas hasil negosiasi Amerika Serikat (AS) dan Iran terkait program nuklir mereka, yang bisa berdampak pada masuknya kembali minyak Iran ke pasar dunia.

Harga kontrak minyak mentah berjangka jenis Brent, yang menjadi acuan Eropa tercatat berada di level US$ 74,53 per barel, atau melemah 0,33% dan kembali ke Selasa pekan lalu yang saat itu berada di level US$ 74,81.

Sementara itu, minyak mentah jenis West Texas Intermediate (WTI) tertekan 0,37% menjadi US$ 72,65 per barel, meninggalkan level tertinggi yang diraihnya sejak 2018 pada 25 Juni di level US$ 74,05/barel.

Koreksi terjadi setelah pekan lalu harga komoditas energi utama dunia tersebut pekan lalu mencetak reli mingguan selama 5 pekan berturut-turut menyusul ekspektasi kenaikan kembali permintaan minyak dunia berkat kuatnya pertumbuhan ekonomi dan mulai dibukanya perjalanan udara di beberapa negara.

Di sisi lain, pasokan minyak mentah masih terbatas setelah Organisasi Negara Pengekspor Minyak dan sekutunya (Organization of the Petroleum Exporting Countries/OPEC+) sepakat mempertahankan pemangkasan produksi sebesar 2,1 juta barel per hari (bph) sampai Juli ini.

OPEC+ dijadwalkan bertemu kembali pada 1 Juli dan berpeluang melonggarkan pemangkasan produksi pada Agustus jika permintaan terkonfirmasi meningkat. “Pemulihan permintaan mengejutkan banyak pihak dan OPEC harus merespons,” tutur ekonom OCBC Singapura Howie Lee, seperti dikutip CNBC International.

Namun, dalam 3 hari terakhir koreksi menimpa emas hitam ini di tengah negosiasi antara AS dan Iran terkait dengan program nuklir mereka yang diperkirakan berakhir dalam beberapa hari ke depan. Tehran dan lembaga pengawas nuklir Persatuan Bangsa- Bangsa (PBB) pekan lalu gagal menyepakati kesepakatan.

Hanya saja, koreksi tidak terjadi secara signifikan karena muncul faktor-faktor tambahan yang menjaga outlook harga minyak dunia, berupa pelemahan dolar AS yang membuat komoditas seperti minyak dan logam mulia menjadi lebih murah bagi negara negara lain selain AS.

Selain itu, Negara Adidaya juga menyatakan telah menambahkan pengoperasian 13 anjungan minyak dan gas, di tengah kenaikan permintaan dunia. Hal ini menandakan bahwa permintaan energi di AS telah meningkat.

 

 

 

 

Sumber : cnbcindonesia.com
Gambar : Tirto.ID

BAGIKAN BERITA INI

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *