Emas Ambrol 13%, Sekarang Masih di Bawah US$ 1.800

Ada yang berbeda dari gerak harga emas belakangan ini. Meskipun greenback sedang terjungkal, harga logam mulia emas malah ikut terseret dalam gelombang koreksi.

Harga emas sudah longsor ke bawah level support US$ 1.800/troy ons. Apabila dihitung dari level tertingginya sepanjang sejarah yang berhasil ditembus pada Agustus lalu, emas telah ambles 13,7%.

Sehingga secara year to date emas yang tadinya terapresiasi sampai lebih dari 25% kini kenaikannya terpangkas menjadi 17,26% saja. Mengawali bulan terakhir tahun ini (1/12/2020), harga logam kuning ini menguat tipis 0,1% dibanding penutupan kemarin ke US$ 1.780,39/troy ons.

Di saat kilau emas pudar sebenarnya posisi dolar AS juga sedang melemah. Untuk kali ini gerak emas dan dolar AS seirama. Biasanya keduanya saling bertolak belakang alias memiliki korelasi negatif yang kuat.

Koreksi tajam harga bullion tak bisa dipisahkan dari sentimen positif seputar perkembangan vaksin Covid-19. Secara bertubi-tubi tiga pengembang vaksin Covid-19 global yakni Pfizer-BioNTech, Moderna hingga AstraZeneca melaporkan analisa awal hasil uji klinis akhir yang menjanjikan.

Tingkat efektivitas proteksi vaksin diklaim mencapai 90%. Optimisme vaksin membuat pasar sumringah dan investor pun berburu aset-aset yang lebih berisiko seperti saham dan komoditas non-emas.

Emas pun dilego dan membuat harganya tertekan. Namun sebenarnya fundamental emas belum berubah. Bahkan sampai detik ini. Kalaupun sebentar lagi sudah ada vaksin yang diizinkan untuk digunakan tetap saja fundamental emas tidak serta merta berubah.

Sebagai aset yang tidak produktif karena tidak memberikan imbal hasil seperti dividen di saham dan kupon/bunga di instrumen investasi berbasis utang, emas memiliki biaya peluang (opportunity cost).

Orang akan memilih menggenggam emas apabila biaya peluangnya rendah. Saat ini suku bunga acuan yang rendah bahkan mencapai zero lower bound di negara-negara maju serta imbal hasil obligasi pemerintah AS yang berada di teritori negatif membuat biaya peluang memegang aset emas menjadi rendah.

Terpilihnya Joe Biden sebagai presiden AS ke-46, kombinasi Janet Yellen dan Jerome Powell juga dinilai bakal positif untuk perkembangan stimulus. Salah satu tenaga yang mendorong harga emas menguat adalah stimulus.

Banjir stimulus membuat emas berhasil menguat lebih dari 25%. Namun ketika diskusi stimulus jilid II mandeg, harga emas pun mulai kehilangan bensin untuk menguat. Well, so far dengan fundamental emas yang masih kuat seharusnya masih ada peluang emas untuk rebound atau setidaknya tidak jatuh lebih dalam.

 

 

 

 

Sumber : cnbcindonesia.com
Gambar : Bisnis.com

BAGIKAN BERITA INI

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *