Kredit Macet Membludak, Laba Bank Besar Turun Tajam di China

Bank-bank besar China melaporkan penurunan laba yang signifikan di tengah pandemi virus corona (Covid-19) akibat melonjaknya kredit macet di bisnis pinjaman mereka.

Pada saat melaporkan pendapatan paruh pertama tahun ini pada Minggu (30/8/2020), Industrial & Commercial Bank of China Ltd., pemberi pinjaman aset terbesar di dunia, China Construction Bank Corp., yang terbesar kedua, Agricultural Bank of China Ltd. dan Bank of China Ltd. semuanya memposting penurunan laba setidaknya 10%.

Sementara itu, provisi kerugian pinjaman melonjak antara 27% sampai 97% di empat bank itu, tulis Bloomberg.

Melonjaknya provisi kerugian itu dikarenakan sistem perbankan China yang bernilai US$ 45 triliun telah dikerahkan sebagai tonggak utama untuk membantu meringankan kemerosotan ekonomi terburuk yang dialami negara itu dalam 40 tahun. Ekonomi China berada di level terburuk karena negara memberlakukan penguncian (lockdown) untuk mengekang penyebaran pandemi.

Untuk mengurangi dampak negatif itu, pihak berwenang telah meminta para pemberi pinjaman untuk menyisihkan 1,5 triliun yuan (US$ 218 miliar) dari keuntungan untuk menyediakan pinjaman dengan bunga rendah, mengijinkan penundaan pembayaran dan meningkatkan pinjaman untuk usaha kecil yang kesulitan di tengah pandemi.

Secara total, lebih dari 1.000 bank komersial nasional membukukan penurunan 24% dalam laba kuartal kedua, sementara kredit macet (non performing loan/NPL) mencapai rekor 2,7 triliun yuan. Citigroup Inc. bulan lalu memangkas perkiraan pendapatan tahun 2020 hingga 2022 untuk bank-bank besar China lebih dari 10 poin persentase dan memperkirakan mereka akan mengalami penurunan laba 13% tahun ini.

“Di bawah tekanan politik yang memuncak, bank-bank China tidak hanya harus memangkas lebih lanjut hasil pinjaman untuk mensubsidi ekonomi riil, tetapi juga perlu mempercepat penyediaan kontra-siklus dan mengadopsi asumsi NPL yang lebih konservatif dalam menetapkan ketentuan,” tulis analis Citigroup yang dipimpin oleh Judy Zhang.

“Potensi pertumbuhan pendapatan negatif akan membebani kinerja saham bank-bank China dalam jangka pendek,” tambahnya.

Akibat permintaan pemerintah untuk memberikan pinjaman kepada bisnis yang kesulitan di tengah pandemi, pinjaman dan uang muka di empat bank besar naik antara 7% sampai 10% di paruh pertama. Di sisi lain, kredit macet juga melonjak.

Akibat hal itu, investor kini memandang suram prospek bank-bank China. Saham bank terbesar diperdagangkan sekitar 0,45 kali dari forecast book value mereka, rekor valuasi terendah, setelah berkinerja buruk di indeks benchmark di Hong Kong dan di China daratan selama hampir sepanjang lima tahun terakhir.

Moody’s Investors Service memperkirakan tekanan kredit macet akan tetap tinggi di tengah sentimen konsumen yang lemah, membuat profitabilitas bank berada di bawah tekanan selama sisa tahun 2020. Ekonom memperkirakan produk domestik bruto (PDB) akan tumbuh 2% tahun ini, melambat dari 6,1% pada 2019.

Dalam skala global, bank-bank besar dunia juga bernasib serupa. HSBC Holdings Plc misalnya. Bank ini mengatakan dampak dari pandemi dapat memicu kerugian pinjaman sebanyak US$ 13 miliar tahun ini. JPMorgan Chase & Co juga mengatakan mungkin mengalami penurunan yang berkepanjangan.

Dalam kasus terburuk, bank-bank China sendiri telah diproyeksikan akan mencatatkan penurunan laba sekitar 20% hingga 25% pada tahun 2020, menurut analis Jefferies Shujin Chen. Bahkan, tanpa pembayaran dividen, penurunan lebih lanjut juga akan merugikan modal bank dan akan membahayakan stabilitas keuangan, katanya.

“Industri perbankan menghadapi lingkungan eksternal yang lebih kompleks dan tidak pasti,” kata China Construction Bank (CCB) dalam laporannya, merujuk pada ketegangan geopolitik dan gangguan dalam globalisasi sebagai sumber tekanan eksternal.

 

 

 

 

 

Sumber : cnbcindonesia.com
Gambar : CNBC Indonesia

BAGIKAN BERITA INI

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *