Kasus Corona Tembus 14 Juta di Dunia, Rupiah Dekati Rp14.700

Nilai tukar rupiah berada di posisi Rp14.695 per dolar AS pada perdagangan pasar spot Senin (20/7) pagi. Memang, mata uang Garuda tercatat menguat 7 poin atau 0,05 persen dari Rp14.702 pada akhir pekan lalu, namun sebetulnya tren melemah.

Di kawasan Asia, rupiah menguat bersama peso Filipina 0,02 persen. Sedangkan, dolar Hong Kong stagnan. Sementara itu, mata uang Asia lainnya jatuh ke zona merah.

Yen Jepang melemah 0,32 persen, baht Thailand minus 0,31 persen, yuan China minus 0,11 persen, dolar Singapura minus 0,09 persen, ringgit Malaysia minus 0,07 persen, dan won Korea Selatan minus 0,06 persen.

Begitu juga dengan mata uang utama negara maju. Semuanya kompak melemah dari dolar AS. Poundsterling Inggris melemah 0,33 persen, dolar Australia minus 0,26 persen.

Kemudian, Franc Swiss minus 0,18 persen, euro Eropa minus 0,13 persen, dolar Kanada minus 0,12 persen, dan rubel Rusia minus 0,05 persen.

Analis sekaligus Kepala Riset Monex Investindo Ariston Tjendra memperkirakan nilai tukar rupiah akan melemah ke kisaran Rp14.600 sampai Rp14.800 per dolar AS pada hari ini. Pasalnya, jumlah kasus virus corona atau covid-19 terus bertambah dari hari ke hari.

Organisasi Kesehatan Dunia (World Health Organizations/WHO) mencatat jumlah kasus virus corona sudah tembus 14,04 juta orang di dunia. Sementara, jumlah kasus meninggal dunia tembus 600 ribu orang.

Begitu pula di Indonesia. Jumlah kasus positif virus corona sudah mencapai 84,88 ribu orang dengan jumlah kematian mencapai 4.016 orang. Jumlah kasus virus corona di Tanah Air bahkan hampir menyalip China sebanyak 85,93 ribu orang.

“Sentimen tersebut mungkin bisa mendorong pelemahan nilai tukar di emerging markets (negara berkembang) terhadap dolar AS hari ini, termasuk rupiah,” ujar Ariston kepada CNNIndonesia.com.

Sentimen lain karena tingkat imbal hasil (yield) surat utang AS, US Treasury tenor 10 tahun kembali turun ke kisaran 0,622 persen. Yield sudah turun sekitar 2,07 persen dalam beberapa bulan terakhir.

“Ini mengindikasikan permintaan aset aman dolar AS meningkat,” pungkasnya.

 

 

 

 

 

Sumber : cnnindonesia.com
Gambar : Bisnis.com

BAGIKAN BERITA INI

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *