Kripto Rebound, Emas Lunglai tapi Diramal Bisa ke US$ 2.000

Harga Bitcoin mulai bangkit dan emas tertekan. Setelah ambles ke bawah US$ 40.000/BTC aset cryptocurrency besutan Satoshi Nakamoto tersebut perlahan merangkak naik.

Emas yang sempat berhasil melenggang ke atas US$ 1.875/troy ons kemarin terkoreksi hari ini. Di arena pasar spot harga emas dunia melemah 0,26% ke US$ 1.871,8/troy ons.

Sejak 2021, hubungan emas dan Bitcoin cenderung berlawanan arah, layaknya emas dengan greenback. Di awal tahun investor institusi memilih menjual aset emasnya dan berpindah ke Bitcoin sehingga harganya naik tinggi.

Namun belakangan ini ketika harga Bitcoin ambles JP Morgan menyebut bahwa investor institusi kembali memburu emas. Emas memang bukanlah aset produktif seperti saham atau obligasi. Begitupun Bitcoin yang pada awal kemunculannya diharapkan bisa mengganti fungsi mata uang fiat dan sistem moneter yang ada.

Hanya saja sejarah panjang emas sebagai mata uang selama berabad-abad membuatnya punya nilai. Emas dianggap sebagai store of value dan layak dipakai untuk lindung nilai dari inflasi (hedging).

Maklum emas tak bisa dicetak kapanpun dan berapapun jumlahnya oleh bank sentral. Hal ini jelas berbeda dengan mata uang fiat pada umumnya. Pasokan emas yang cenderung stabil membuatnya mampu berperan sebagai aset untuk hedging dan diversifikasi.

Hanya saja popularitas emas menurun sejak Bitcoin menjadi booming. Kenaikan harga Bitcoin yang sangat fantastis membuat banyak pihak baik investor ritel maupun institusi meliriknya. Emas jadi punya tandingan.

Sekarang harga emas sudah keluar dari tekanan. Memang ada peluang terjadinya koreksi sehat. Namun tren bullish emas dinilai belum akan berakhir. Masih ada ruang emas untuk menguat ke US$ 2.000/troy ons lagi.

Dini hari tadi indeks acuan saham Wall Street kompak ditutup ke zona hijau. Data tunjangan klaim pengangguran yang terus menurun menjadi sinyal positif dan memberikan tenaga bagi pasar saham untuk menguat setelah tertekan selama tiga hari beruntun.

Angka pengangguran yang terus turun menjadi indikator positif bahwa perekonomian terbesar di dunia semakin membaik seiring dengan masifnya vaksinasi dan pembukaan ekonomi secara gradual.

Namun pelaku pasar juga masih mencerna risalah rapat komite pengambil kebijakan The Fed yang mulai mensinyalkan perlunya tapering jika kondisi perekonomian semakin membaik.

Meskipun begitu, bos The Fed Jerome Powell masih memperingatkan bahwa perekonomian belum pulih benar kembali ke level sebelum pandemi. Pemulihan pun masih belum terjadi secara merata.

Ini menjadi tantangan utama bank sentral Negeri Adidaya untuk merubah stance kebijakan moneternya dari dovish menjadi hawkish. Apabila mengacu pada laporan kebijakan moneter The Fed, kebanyakan anggota komite pengambil kebijakan cenderung berpikir untuk menaikkan suku bunga acuan tahun 2023 mendatang.

Hanya saja perlu diingat bahwa ini bukan masalah waktu kapan suku bunga harus dinaikkan, tetapi lebih ke perkembangan perekonomian. Dual mandate yang dibebankan kepada The Fed mengharuskan bank sentral untuk bisa menjaga stabilitas harga dan mewujudkan kondisi maximum employment.

Inilah tantangan yang dihadapi The Fed saat ini. Pasalnya inflasi di AS sudah menunjukkan adanya kenaikan sementara tingkat pengangguran walau sudah menurun tetapi belum kembali ke level pra-pandemi.

Bulan lalu inflasi tercatat naik 4,2% secara tahunan. Ini menjadi kenaikan tertinggi dalam lebih dari satu dekade terakhir. Bagaimanapun juga kenaikan inflasi secara umum akan menguntungkan harga emas.

 

 

 

 

 

Sumber : cnbcindonesia.com
Gambar : Kompas.com

BAGIKAN BERITA INI

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *