Interaksi Hangat Trump dan Erdogan di Washington

Presiden Amerika Serikat, Donald Trump, menyambut hangat Presiden Turki, Recep Tayyip Erdogan, pada kunjungan keduanya ke Gedung Putih. Ini kunjungan pertama Erdogan setelah operasi militer dari Turki ke Kurdi Suriah.

Trump tengah menghadapi kritik bipartisan yang diduga memberikan izin bebas kepada presiden Turki untuk menjembatani bagian dari kesenjangan dengan anggota kunci partainya sendiri. Ini sebuah langkah yang tidak biasa namun bersifat mendamaikan, ia mengundang beberapa senator Partai Republik ke ruang oval untuk berbicara langsung dengan Erdogan yakni Ted Cruz dan Lindsey Graham.

Sebuah konferensi pers bersama oleh kedua presiden menjelaskan poin-poin utama ketegangan yang juga mengesahkan hubungan pribadi keduanya telah berusaha kembangkan dan pertahankan dalam tiga tahun terakhir.

“Erdogan adalah teman yang sangat baik bagi saya,” ucap Trump dalam konferensi, dirilis dari The Independent, Kamis, 14 November 2019.

Situasi di Suriah adalah salah satu kunci utama perbedaan antara kedua pemerintah. Turki tidak senang dengan penempatan pasukan AS ke ladang-ladang minyak di Suriah, dan Trump mendukung keputusan itu.

AS menentang akuisisi perancangan rudal S-400 di Turki, namun Erdogan tampaknya tidak menyerah pada sistem rudal Rusia. Presiden Turki itu menyebutkan bahwa ia berniat untuk membeli rudal Patriot AS di masa depan walaupun belum jelas seberapa besar pengaruh yang dimiliki presiden AS dalam mewujudkannya.

Salah satu tuntutan lama Erdogan dari Presiden Amerika adalah mengekstradisi ulama Turki pembangkang, Fethullah Gulen dari AS. Itu bukan sesuatu yang Trump sepakati karena harus melalui saluran hukum di Departemen Kehakiman.

Presiden Turki juga menyebut komandan Pasukan Demokrat Suriah (SDF), Jenderal Mazloum Abdi sebagai teroris. Namun, Trump mengatakan kepada wartawan Turki bahwa dia akan terus memiliki hubungan yang baik dengan jenderal Kurdi. Itulah salah satu masalah utama ketidaksepakatan yang akan terus tidak terselesaikan antara kedua pemerintah.

“Kami memiliki strategi yang teruji di Suriah,” kata Henri Barkey, seorang profesor hubungan internasional di Universitas Lehigh dan staf senior di Dewan Hubungan Luar Negeri.

“Kami memiliki Suriah dan Rusia dalam posisi bertahan. Kami adalah sekutu dengan Kurdi, yang adalah pejuang yang baik dan dapat memegang wilayah dan melawan ISIS,” imbuh Barkey kepada The Independent.

Selain itu, sebuah keberuntungan untuk bekerja sama dengan Erdogan. Ada sangat sedikit pemimpin dunia yang telah mengunjungi Gedung Putih dua kali di bawah kepemimpinan Trump. Ini adalah hal sangat tidak biasa bagi seorang pemimpin Turki untuk mendapatkan akses yang begitu sering kepada presiden AS.

Trump dikenal menghargai para pemimpin yang keras seperti Vladimir Putin dan Erdogan. “Trump telah melindungi Erdogan selama ini. Trump juga tidak memiliki strategi serangan di Suriah. Dia bilang dia ingin menarik pasukan keluar, lalu memindahkan mereka kembali ke ladang minyak,” sebut Barkey.

Pendukung Trump tampaknya tidak peduli dengan detailnya. Rakyat Amerika benar-benar muak dengan pasukan AS yang tewas di luar negeri dan uang pajak mereka terbuang untuk perang.

Barkey berpendapat bahwa Presiden Trump memiliki pendekatan yang sangat pribadi dalam berbagai hal dan menggunakan pemerintah Amerika sebagai perusahaan pribadinya. “Apa pun yang baik untuk Trump baik untuk AS. Satu-satunya strategi besar Trump adalah membuat dirinya terpilih kembali di pemilu 2020,” jelas dia.

Serangan Turki ke Suriah telah kehilangan rasa urgensinya di Washington usai sebulan lalu. Proses pemakzulan masih akan menjadi fokus perhatian di Ibu Kota AS.

 

 

 

 

Sumber : medcom.id
Gambar : Tribunnews.com

 

 

 

[social_warfare buttons=”Facebook,Pinterest,LinkedIn,Twitter,Total”]

 

BAGIKAN BERITA INI

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *