Bayang-bayang Pelambatan Ekonomi Eropa Bikin Euro Rapuh

Mata uang euro menguat di awal perdagangan, Senin (29/4/19), setelah menunjukkan performa buruk dalam dua pekan terakhir.

Meski menguat pada perdagangan hari ini, euro masih terlihat rapuh akibat bayang-bayang pelambatan ekonomi di Eropa. Faktor itu juga yang membuat euro anjlok ke level terendah 23 bulan atau tepatnya sejak Mei 2017.

Pada pukul 7:23 WIB, euro diperdagangkan di kisaran US$ 1,1149, lebih kuat dibandingkan penutupan Jumat (26/4/19) di level US$ 1,1142, mengutip kuotasi MetaTrader 5. Mata uang 19 negara ini berhasil menguat pada hari Jumat, tetapi level terendah 23 bulan di kisaran US$ 1,1110 juga dibentuk saat itu.

Data aktivitas bisnis yang tak kunjung membaik dari Zona Euro menjadi pemicu kecemasan akan pelambatan ekonomi.

Survei aktivitas bisnis yang dilakukan oleh ISH Markit di bulan ini menunjukkan sektor manufaktur masih mengalami kontraksi, sementara ekspansi di sektor jasa mengalami pelambatan.

Hal itu diperburuk dengan menurunnya tingkat keyakinan bisnis Jerman, motor penggerak ekonomi Zona Euro.

Sentimen Bisnis Jerman

Institusi Ifo yang melakukan survei terhadap 700 pelaku usaha di Jerman menunjukkan adanya tingkat penurunan keyakinan atau sentimen terhadap kondisi bisnis saat ini.

Angka indeks sentimen bisnis bulan ini dirilis sebesar 99,2 menurun dari bulan Maret sebesar 99,7. Bahkan sentimen bisnis di bulan ini mendekati angka 98,7 pada bulan Februari, yang merupakan tingkat keyakinan bisnis terendah sejak Maret 2010.

Selain tanda-tanda pelambatan ekonomi, memanasnya hubungan dagang AS – Eropa juga menjadi salah satu penyebab menurunnya tingkat keyakinan bisnis, yang membuat euro ambruk pada pekan lalu.

Mata uang 19 negara ini baru bisa bangkit pada hari Jumat (26/4/19) memanfaatkan tekanan yang dialami dolar AS pasca-rilis data pertumbuhan ekonomi atau produk domestik bruto (PDB) AS. Meski data tersebut dirilis jauh lebih tinggi dari perkiraan, namun komponen utama pembentuk PDB tersebut yakni belanja konsumen menunjukkan pelambatan pertumbuhan.

Belanja konsumen berkontribusi sekitar 68% dari total PDB, pelambatan sektor ini akan memicu kecemasan ekonomi AS akan kurang bagus di kuartal II tahun ini.

Selain itu data inflasi berdasarkan indeks harga belanja personal yang turun di kuartal I juga memberikan tekanan bagi dolar.

Data inflasi ini dijadikan acuan oleh Federal Reserve/The Fed untuk menetapkan kebijakan moneter. Pada kuartal I inflasi ini dilaporkan sebesar 1,3%, turun dari kuartal sebelumnya sebesar 1,8%, melansir CNBC International.

 

 

 

 

 

Sumber : cnbcindonesia.com
Gambar : inforexnews.com

 

 

 

[social_warfare buttons=”Facebook,Pinterest,LinkedIn,Twitter,Total”]

BAGIKAN BERITA INI

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *