Dolar AS Tak Berdaya Gegara Investor Ambil Sikap Ini!

Dolar Amerika Serikat (USD) melemah terhadap sekelompok mata uang utama lainnya pada akhir perdagangan Rabu waktu setempat (Kamis pagi WIB). Pelemahan terjadi karena Indeks Harga Konsumen (IHK) AS yang lebih rendah dari perkiraan pada April mungkin menandakan bahwa inflasi mereda.

Mengutip Antara, Kamis, 11 Mei 2023, indeks dolar, yang mengukur greenback terhadap enam mata uang utama saingannya, turun 0,12 persen menjadi 101,4797 pada akhir perdagangan. Pada akhir perdagangan New York, euro naik menjadi USD1,0976 dari USD1,0967 pada sesi sebelumnya, dan pound Inggris turun menjadi USD1,2622 dari USD1,2623 pada sesi sebelumnya.

Sedangkan dolar AS dibeli 134,2610 yen Jepang, lebih rendah dari 135,17708 yen Jepang pada sesi sebelumnya. Dolar AS turun menjadi 0,8895 franc Swiss dari 0,8899 franc Swiss, dan naik menjadi 1,3382 dolar Kanada dari 1,3378 dolar Kanada. Dolar AS naik menjadi 10,2336 krona Swedia dari 10,1890 krona Swedia.

IHK AS meningkat

Biro Statistik Tenaga Kerja AS melaporkan bahwa IHK AS meningkat sebesar 0,4 persen pada April secara bulan ke bulan, lebih tinggi dari pertumbuhan 0,1 persen pada Maret. Ini sejalan dengan ekspektasi para ekonom.

IHK AS naik 4,9 persen secara tahun ke tahun pada April, turun dari pembacaan 5,0 persen pada Maret. Ini adalah pembacaan tahunan terkecil sejak April 2021. Para ekonom memperkirakan data yang tidak berubah.

IHK inti (tidak termasuk makanan dan energi) naik 0,4 persen pada April dalam basis bulan ke bulan, dan naik 5,5 persen dalam basis tahun ke tahun. Kedua angka tersebut sejalan dengan ekspektasi ekonom. Menurut Biro Statistik Tenaga Kerja AS, rumah singgah adalah penyumbang inflasi terbesar pada April.

Tingkat imbal hasil surat utang Pemerintah AS bertenor dua tahun turun di bawah 4,00 persen pada Rabu waktu setempat, sedangkan tingkat imbal hasil obligasi Pemerintah AS bertenor 10 tahun turun di bawah 3,50 persen. “Kami semakin yakin bahwa inflasi akan kembali ke target,” kata Kepala Ekonom Moody’s Analytics Mark Zandi.

 

 

 

 

 

 

Sumber : medcom.id
Gambar : Okezone Economy

BAGIKAN BERITA INI

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *