Kondisi Ekonomi AS di Ambang Resesi

Kondisi ekonomi Amerika Serikat (AS) tengah di ambang resesi. Proyeksi itu berdasarkan pelacak Pendapatan Domestik Bruto (PDB) The Atlanta Federal Reserves yang memperkirakan pertumbuhan ekonomi AS hanya 0,9 persen pada kuartal II 2022, turun dari kuartal I yang masih mampu tumbuh 1,5 persen.

Dilansir dari CNBC, Kamis (9/6), kondisi penurunan ekonomi selama dua kuartal berturut-turut merupakan salah satu tanda resesi. Ekonomi AS tertekan oleh lonjakan harga komoditas di tengah tantangan usai pandemi dan perang Rusia-Ukraina.

Konsumsi rumah tangga yang menopang 70 persen PDB AS, diperkirakan hanya mampu tumbuh 3,7 persen, turun dari proyeksi sebelumnya 4,4 persen.

Isu resesi menjadi perhatian tahun ini di tengah lonjakan inflasi yang dapat menahan proyeksi profit korporasi. Namun, sejumlah pelaku Wall Street masih meyakini ketahanan belanja konsumer dan pertumbuhan lapangan kerja mampu mencegah AS masuk ke lubang resesi.

“Saat ini sepertinya pembicaraan mengenai resesi merupakan cerita pada 2023,” ujar Kepala Ekonom RSM Joseph Brusuelas.

Menurut Brusuelas, seberapa besar gejolak terhadap siklus bisnis masih harus dilihat.

“Menurut saya, ekonomi akan melambat, tetapi hanya akan kembali ke level pertumbuhan ekonomi jangka panjang 1,8 persen,” ujarnya.

Biro Nasional Riset Ekonomi AS (NBER) juga mengingatkan penurunan laju ekonomi selama dua kuartal tidak selalu menandakan resesi.

NBER mendefinisikan resesi sebagai “penurunan aktivitas ekonomi signifikan di seluruh sektor yang terjadi selama berbulan-bulan,” ujarnya.

Berdasarkan laporan warga Indonesia yang tinggal di Los Angeles, AS, Meidy, kondisi ekonomi AS memang sedang sulit.

“Kalau harga-harga naik iya, gila-gilaan naiknya. Dan mayoritas semua naik,” kata Meidy, seperti dikutip dari detikcom.

Misalnya, harga bahan bakar minyak (BBM( di wilayahnya berkisar antara US$6 atau Rp86.400 sampai US$7 atau Rp100.400 (kurs Rp 14.400) per galon. Padahal, sebelum perang Rusia-Ukraina harga bensin paling mahal hanya US$4 atau Rp57.600.

Kenaikan harga juga terjadi pada bahan pangan pokok, seperti daging ayam yang naik hampir dua kali lipat.

“Daging ayam naiknya juga lumayan. Biasanya 1 ekor pas pandemi saya beli US$ 7 sudah ukuran lumayan besar. sekarang jadi bisa US$ 13,” ungkapnya.

Selain itu, menurut Meidy, banyak orang memilih keluar dari pekerjaannya karena pertimbangan gaji. Namun, mereka sulit mendapat pekerjaan baru mengingat ekonomi belum sepenuhnya pulih dari pandemi.

Pekan ini, Bank Dunia memangkas proyeksi pertumbuhan ekonomi AS pada 2022. Proyeksi turun karena imbas perang Rusia-Ukraina, pandemi covid-19, hingga gangguan rantai pasok.

Dalam laporan terbaru Global Economic Report, Bank Dunia memperkirakan ekonomi Negeri Paman Sam hanya mampu tumbuh 2,5 persen tahun ini atau lebih rendah dari proyeksi Januari lalu, 3,7 persen.

Proyeksi tersebut melambat dibandingkan realisasi tahun lalu yang mampu mencapai 5,7 persen.

Turunnya proyeksi ekonomi AS tahun ini sejalan dengan laju ekonomi global yang diperkirakan hanya 2,9 persen atau di bawah proyeksi Januari lalu, 4,1 persen.

 

 

 

 

Sumber : cnnindonesia.com
Gambar : CNN Indonesia

BAGIKAN BERITA INI

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *