Mata Uang Asia Perkasa, Rupiah Malah Menciut ke Rp14.038

Nilai tukar rupiah berada di posisi Rp14.038 per dolar AS pada perdagangan Selasa (2/2) pagi. Mata uang Garuda tercatat melemah 15 poin atau 0,11 persen dari Rp14.023 per dolar AS pada Senin (1/2).

Pagi ini, rupiah berada di zona merah bersama ringgit Malaysia yang melemah 0,14 persen dari dolar AS. Sementara dolar Hong Kong stagnan.

Sedangkan mata uang Asia lain kompak menguat dari dolar AS. Dolar Singapura menguat 0,17 persen, yuan China 0,1 persen, yen Jepang 0,08 persen, baht Thailand 0,07 persen, peso Filipina 0,02 persen, dan won Korea Selatan 0,02 persen.

Begitu juga dengan mata uang utama negara maju, semua kompak berada di zona hijau. Dolar Australia menguat 0,37 persen, poundsterling Inggris 0,22 persen, rubel Rusia 0,21 persen, euro Eropa 0,16 persen, dolar Kanada 0,16 persen, dan franc Swiss 0,11 persen.

Kendati dibuka melemah, namun Analis sekaligus Kepala Riset Monex Investindo Ariston Tjendra memperkirakan rupiah akan menguat dengan bergerak di kisaran Rp13.950 sampai Rp14.080 per dolar AS pada hari ini. Hal ini sejalan dengan mata uang Asia lain.

“Harga indeks saham regional terlihat menguat, mata uang regional pun terlihat menguat terhadap dolar AS. Rupiah bisa terbantu menguat hari ini,” ujar Ariston kepada CNNIndonesia.com.

Menurutnya, penguatan bursa saham dan mata uang Asia akan terbantu oleh sentimen pembahasan paket stimulus fiskal AS senilai US$1,9 triliun. Presiden AS Joe Biden sudah memulai komunikasi dengan Senat.

“Selain itu disinyalir, reposisi fund manager untuk kembali masuk ke aset berisiko di awal bulan juga,” imbuhnya.

Hal ini bisa menambah amunisi penguatan bagi rupiah dan mata uang Asia lainnya. Kendati begitu, menurutnya, pasar tetap mewaspadai tingginya kasus harian covid-19 di tanah air, sehingga berisiko melemahkan rupiah.

 

 

 

 

 

Sumber : cnnindonesia.com
Gambar : JawaPos.com

BAGIKAN BERITA INI
  •  
  •  
  •  

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *