Trading Forex, Yen Makin Ganas Disulut Oleh Trump

Nilai tukar yen Jepang menguat melawan dolar Amerika Serikat (AS) di awal perdagangan Rabu (20/11/19) setelah berhasil mencetak penguatan dua hari berturut-turut.

Pada pukul 9:25 WIB, yen diperdagangkan di level US$ 108,48 atau menguat 0,06% di pasar spot, melansir data Refinitiv. Sebelumnya di awal perdagangan mata uang Negeri Matahari Terbit ini sudah menguat 0,18%.

Hubungan AS dengan China dalam negosiasi kesepakatan dagang tampaknya semakin panas di pekan ini. Merenggangnya AS-China mulai terlihat sejak CNBC International melaporkan Pemerintah China pesimis dengan perundingan kesepakatan dagang setelah Presiden AS Donald Trump menolak untuk menghapus bea masuk produk China.

“Mood di Beijing mengenai kesepakatan dagang saat ini pesimistis akibat keengganan Presiden Trump dalam menghapus bea masuk, dimana sebelumnya China percaya AS sudah sepakat akan penghapusan tersebut” kata sumber dari pemerintah China sebagaimana dikutip Eunice Yooh reporter CNBC International.

Sumber tersebut juga mengatakan China kini mengamati dengan seksama situasi politik di AS, termasuk sidang pemakzulan dan pemilihan presiden 2020. Para pejabat China dikatakan mulai mempertimbangkan apakah lebih rasional untuk menunggu hingga semua urusan politik tersebut selesai akibat kemungkinan Trump tidak lagi menjabat sebagai presiden.

Kini Presiden Trump memberikan tanggapan, bukannya melunak justru tambah keras. Dalam sidang Kabinet Selasa waktu setempat, Trump mengatakan akan menaikkan tarif jika China tidak menandatangani kesepakatan dagang.

“Jika kita tidak membuat kesepakatan dengan China, saya akan menaikkan bea masuk, bahkan lebih tinggi lagi” kata Trump sebagaimana dilansir CNBC International.

Sejauh ini, AS telah mengenakan bea masuk produk dari China senilai US$ 500 miliar, dan China membalas dengan menaikkan bea masuk terhadap produk made in USA senilai US$ 110 miliar.

Jika kedua belah pihak tidak mencapai kesepakatan dagang, Trump berencana akan menaikkan bea masuk lagi pada tanggal 15 Desember nanti.
Memanasnya hubungan kedua negara membuat sentimen terhadap risiko (risk appetite) pelaku pasar memburuk, dampaknya aset-aset berisiko berguguran. Saat kondisi tersebut terjadi, aset aman (safe haven) seperti yen yang menjadi incaran para investor.

 

 

 

 

 

Sumber : cnbcindonesia.com
Gambar : Gulf News

 

 

 

[social_warfare buttons=”Facebook,Pinterest,LinkedIn,Twitter,Total”]

 

BAGIKAN BERITA INI

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *