Situasi Global Masih Panas, Yen Loyo Lagi

Mata uang yen Jepang kembali melemah melawan dolar Amerika Serikat (AS) di awal perdagangan Senin (30/9/19) padahal dinamika isu global masih cukup panas.

Hingga perdagangan Jumat (27/9/19) yen sudah mencatat pelemahan dalam 3 hari berturut-turut melawan dolar AS.

Pada pukul 8:53 WIB, yen diperdagangkan di level 107,91/US$ atau nyaris stagnan dibandingkan penutupan perdagangan Jumat pekan lalu. Sebelumnya di awall perdagangan hari ini yen melemah 0,08% ke level 108,01/US$ melansir di pasar spot melansir data Refinitiv.

Dari AS, perkembangan proses pemakzulan Presiden Donald Trump masih menjadi sorotan. Nancy Pelosi, Ketua House of Representatives, mengklaim bahwa saat ini opini publik sudah mengarah ke dukungan terhadap pendongkelan Trump dari Gedung Putih.

“Publik sudah mengubah arah. Setelah melihat aksi yang dilakukan pemerintahan saat ini, rakyat AS sudah memiliki pilihan yang berbeda. Seorang presiden AS menahan bantuan bagi negara lain yang didanai dari para pembayar pajak, kecuali kalau negara itu membantunya. Ini sudah sangat jelas,” tegas Pelosi, seperti diwartakan Reuters.

Selain itu, kabar mengejutkan juga datang dari AS di tengah euforia perundingan dagang dengan China.

Pemerintah Trump dikabarkan sedang mendiskusikan pembatasan investasi di perusahaan-perusahaan China, sebagaimana dilansir CNBC International yang mengutip dari seorang sumber. Meski demikian, diskusi tersebut dikatakan masih dalam tahap awal, dan belum ada keputusan apapun.

Sebagai implementasi rencana tersebut, Pemerintahan Trump dikabarkan akan menghapus pencatatan saham (delisting) perusahaan perusahaan China yang melantai di bursa saham AS, seperti dikutip Reuters dari tiga orang sumber yang mengetahui hal tersebut.

Selain untuk membatasi investasi di perusahaan China, rencana delisting tersebut dikatakan sebagai kekhawatiran pemerintahan Trump terhadap aktivitas perusahaan yang dapat menimbulkan gangguan keamanan.

Di sisi lain, potensi munculnya perang dagang antara AS dengan Eropa kini cukup tinggi. Hal ini terkait dengan pengumuman hasil gugatan AS ke Airbus oleh Organisasi Perdagangan Dunia (WTO) rencananya diumumkan di Jenewa hari ini.

Pemerintah AS menuntut pemerintah Uni Eropa melakukan tindakan curang dengan memberikan subsidi pada Airbus.

WTO dikabarkan akan mengabulkan permintaan AS untuk mengenakan tarif impor terhadap produk-produk dari Eropa, sebagaimana diwartakan CNBC International yang mengutip beberapa media.

Situasi global yang masih panas tersebut belum mampu membuat yen yang menyandang status aset aman (safe haven) menguat. Trader sudah melihat kembali potensi gelontoran stimulus moneter dari Bank of Japan (BoJ) di bulan Oktober.

Pada Kamis (19/9/19) BoJ memutuskan mempertahankan kebijakan moneternya. Meski demikian, bank sentral pimpinan Haruhiko Kuroda tersebut membuka peluang untuk merubah kebijakannya (ke arah lebih longgar) pada bulan depan. Dalam pernyataannya bank sentral akan terus memberi perhatian pada pertumbuhan ekonomi. BOJ juga mengatakan tidak ingin kehilangan momentum untuk mencapai target inflasi 2%.

“Dengan mempertimbangkan situasi ini, BOJ akan memeriksa kembali perkembangan ekonomi dan harga, pada pertemuan kebijakan berikutnya. Ketika meninjau pertumbuhan jangka panjang dan perkiraan harga,” ujar pernyataan BOJ sebagaimana dikutip dari Reuters.

Ada peluang akan ada gelontoran stimulus dari BoJ yang tentunya akan melemahkan kurs yen.

 

 

 

 

Sumber : .cnbcindonesia.com
Gambar : Tribunnews.com

 

 

 

[social_warfare buttons=”Facebook,Pinterest,LinkedIn,Twitter,Total”]

 

BAGIKAN BERITA INI

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *