Gegara Jenuh Beli Harga Emas Ambruk, Fundamental Masih Oke!

Pasar yang sudah jenuh beli (overbought) membuat harga emas terlempar dari level psikologis US$ 1.900/troy ons. Namun prospek bullish emas belum berubah dengan adanya ancaman inflasi yang tinggi.

Pada perdagangan awal pekan ini, Senin (7/6/2021), harga emas dunia di pasar spot turun 0,22% ke US$ 1.886/troy ons. Minggu lalu performa harga emas juga tak bagus di saat indeks dolar AS rebound kembali ke posisi 90.

Untuk minggu ini analis Wall Street maupun investor Main Street masih memperkirakan harga emas bakal naik. Survei yang dilakukan Kitco terhadap 16 analis menunjukkan 11 di antaranya atau 69% responden memperkirakan harga si logam kuning bakal naik minggu ini. Sebanyak 13% bearish dan sisanya 19% netral.

Dari 1.023 voting yang dikumpulkan dalam survei Kitco sebanyak 54% investor Main Street juga memandang bullish prospek harga emas pekan ini. Sebanyak 29% memperkirakan harga emas bakal turun dan sisanya 17% netral terhadap emas.

Harga emas sudah reli panjang selama dua bulan sejak awal April ketika dolar AS tertekan. Aksi beli emas hingga membuatnya secara psikologis mencapai level overbought memang akan memicu koreksi karena adanya aksi ambil untung (profit taking).

Meskipun laporan ketenagakerjaan di Negeri Paman Sam yang dirilis belum lama ini tak terlalu bagus, tetapi adanya kenaikan upah membuat peluang inflasi meningkat semakin tinggi.

“Kenaikan upah cenderung kaku, dan angka perekrutan baru menunjukkan bahwa upah mungkin harus meningkat lebih banyak lagi untuk menarik orang kembali bekerja. Ini negatif dolar dan positif emas.” kata Adrian Day selaku Presiden di Adrian Day Asset Management kepada Kitco News.

Saat pandemi Covid-19 melanda, bank sentral AS The Federal Reserves (The Fed) menempuh kebijakan moneter longgar salah satunya dengan pelonggaran kuantitatif (QE) selain melalui penurunan suku bunga acuan untuk menginjeksi likuiditas di sistem perbankan.

Upaya serupa juga ditempuh pada tahun 2008 silam saat krisis keuangan global akibat goyangnya sektor properti di AS. Namun kala itu kebijakan QE tak berdampak signifikan pada inflasi karena kondisinya dengan sekarang berbeda.

QE kali ini dipandang bakal meningkatkan inflasi karena juga dibarengi dengan kebijakan fiskal ekspansif serta disrupsi rantai pasok global. Inflasi yang tinggi adalah kondisi yang menguntungkan untuk emas.

Ketika inflasi terjadi maka nilai mata uang terutama dolar AS akan terdevaluasi. Harga barang dan jasa meningkat dan kekayaan pelaku ekonomi tergerus. Emas yang suplainya cenderung konsisten diminati sebagai aset untuk lindung nilai terhadap inflasi sehingga harganya merangkak naik.

Namun inflasi yang tinggi secara persisten tak akan dibiarkan oleh The Fed. Bank sentral paling digdaya di muka bumi itu akan mengambil tindakan agar perekonomian terbesar di dunia tak overheat. Salah satunya adalah dengan menyedot ekses likuiditas yang sudah dipompa lewat mekanisme yang disebut tapering.

Tapering mengindikasikan bahwa The Fed akan mengatur laju pembelian aset-aset keuangan. Namun catatannya adalah perekonomian harus terus menunjukkan perbaikan sehingga The Fed bisa mengguyur pasar dengan obligasi pemerintah serta efek beragun aset (EBA) KPR yang sudah dibeli.

Saat itulah dolar AS akan kembali menguat dan emas bakal melemah. Namun pertanyaannya adalah sebelum tapering dilakukan apakah emas bakal tembus kembali ke level all time high-nya di US$ 2.000?

Jalan emas menuju ke sana memang masih terbuka. Namun setidaknya harga emas masih harus menguji level resisten terdekat di US$ 1.900/troy ons. Apabila level ini kembali ditembus dan harga emas konsisten naik sehingga rata-rata harga 50 harian (MA50) menembus rata-rata harga 200 harian (MA200) maka besar peluang emas ke US$ 2.000 lagi.

 

 

 

 

Sumber : cnbcindonesia.com
Gambar : Suara.com

BAGIKAN BERITA INI

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *