Dolar AS dan Bitcoin Kompak Merekah

Dolar Amerika Serikat (USD) naik terhadap sekeranjang mata uang utama pada akhir perdagangan Senin waktu setempat (Selasa WIB), terangkat ekspektasi pertumbuhan dan inflasi yang lebih cepat di Amerika Serikat (AS). Sementara dolar Australia menguat setelah bank sentralnya membeli lebih banyak obligasi.

Mengutip Antara, Selasa, 2 Maret 2021, indeks USD, yang mengukur greenback terhadap enam mata uang utama lainnya, naik 0,28 persen menjadi 91,024, dengan sebelumnya mencapai 91,139, merupakan level tertinggi sejak 8 Februari. Euro melemah 0,21 persen terhadap greenback menjadi USD1,2045.

Dolar telah menguat dalam beberapa sesi terakhir bersama dengan imbal hasil obligasi Pemerintah AS di tengah ekspektasi bahwa pertumbuhan dan inflasi akan meningkat ketika pemerintah mempersiapkan stimulus fiskal baru, dan vaksinasi terhadap covid-19 menjadi lebih luas.

Imbal hasil acuan obligasi Pemerintah AS 10-tahun naik menjadi 1,432 persen pada Senin, 1 Maret, tetapi bertahan di bawah tertinggi satu tahun 1,614 persen yang dicapai pada Kamis, 25 Februari.

“Dolar diuntungkan pada perbedaan imbal hasil, pada perbedaan ekspektasi pertumbuhan, dibandingkan dengan negara-negara lain,” kata Direktur Pelaksana Strategi Valas BK Asset Management Boris Schlossberg, di New York.

Tetapi, Presiden Federal Reserve Richmond Thomas Barkin memperingatkan investor agar tidak mendahului Fed dalam mengantisipasi pengetatan moneter karena ekonomi membaik. Investor yang mengevaluasi kebijakan Fed harus fokus pada pedoman eksplisit bank sentral tentang rencananya dan hasil ekonomi yang relevan.

“Bukan pada menebak-nebak jauh sebelumnya ketika suku bunga atau laju pembelian aset bulanan mungkin berubah,” katanya.

“Semua orang menunggu Eropa untuk menyusul, baik di bagian vaksinasi dan kemudian di bagian stimulus. Ketika mereka melakukannya, itu menjadi bagian terakhir dari teka-teki yang benar-benar mendorong pertumbuhan global ke depan,” kata Schlossberg.

Sementara itu, Presiden ECB Christine Lagarde mengatakan, bank sentral Eropa (ECB) akan mencegah kenaikan prematur dalam biaya pinjaman untuk perusahaan dan rumah tangga yang berjuang untuk mengatasi resesi akibat pandemi.

Dolar Australia kembali bangkit dari posisi terendah tiga minggu pada Jumat, 26 Februari, setelah bank sentral Australia, Reserve Bank of Australia (RBA), meningkatkan pembelian obligasi menjadi 4,0 miliar dolar Australia, meningkatkan ekspektasi bahwa bank sentral lain juga dapat membeli lebih banyak obligasi jika imbal hasil terus melonjak.

“Langkah tersebut mengatakan bahwa bank sentral memiliki kendali lebih atas pasar daripada spekulan, dan bahwa mereka dapat mengatasi dan menenangkan ketakutan penghindaran risiko,” kata Schlossberg.

Aussie terakhir di 0,7773 dolar AS, setelah turun ke 0,7693 dolar AS pada akhir pekan lalu. RBA akan mengadakan pertemuan kebijakan bulanan pada Selasa, dan pasar memperkirakan bank sentral akan memperkuat panduan ke depan untuk tiga tahun lagi dengan suku bunga mendekati nol.

Mata uang safe haven yen mencapai 106,88 terhadap dolar, level terlemah sejak 28 Agustus. Di pasar mata uang kripto, bitcoin naik 7,55 persen menjadi 48.699 dolar AS tetapi jauh dari rekor tertinggi 58.354,14 dolar AS yang dicapai pada 21 Februari.

 

 

 

 

Sumber : medcom.id
Gambar : Medcom.id

BAGIKAN BERITA INI

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *