Dolar AS ‘Dibuang’, Harga Emas Lari Kencang!

Harga logam mulia emas pagi hari ini Kamis (3/12/2020) mengalami koreksi usai dua hari beruntun melesat dan membuatnya kembali ke level di atas US$ 1.800/troy ons.

Pada 08.50 WIB, harga logam kuning tersebut di arena pasar spot turun 0,17% ke US$ 1.827,86/troy ons. Pada Selasa dan Rabu, harga emas ditutup dengan apresiasi dan berhasil menghantarkannya ke level US$ 1.831/troy ons pada penutupan kemarin.

Dolar AS yang kian ambles dan tak berharga menjadi salah satu pemicu utama reli harga emas. Indeks dolar yang mencerminkan posisi greenback terhadap mata uang lainnya telah melorot 3% dalam sebulan terakhir. Indeks dolar kini berada di level terendah dalam 2,5 tahun terakhir.

Dolar dan emas memiliki korelasi negatif kuat. Artinya ketika dolar melemah emas cenderung menguat. Ini yang membuat harga emas rebound pasca longsor karena dipicu oleh sentimen positif perkembangan vaksin Covid-19.

Bulan November memang jadi bulan pesakitan bagi emas. Harga bullion drop 5,37% dalam sebulan setelah prospek yang menjanjikan perkembangan vaksin Covid-19 Pfizer-BioNTech, Moderna dan AstraZeneca menjadi berita paling hangat diperbincangkan.

Bahkan Inggris telah merestui penggunaan darurat untuk vaksin Pfizer dan BioNTech. Namun fundamental emas memang belum berubah. Dolar AS yang tertekan, imbal hasil riil yang negatif membuat biaya peluang memegang aset tak produktif seperti emas menjadi rendah.

Di sisi lain kabar stimulus fiskal jilid II AS juga turut menekan greenback. Kini ada tiga proposal yang sedang dipertimbangkan. Salah satunya adalah paket bantuan bipartisan senilai US$ 908 miliar.

Proposal ini sedang dipertimbangkan dalam hubungannya dengan dua proposal partisan. Salah satunya diajukan oleh McConnell sebagai tawaran Gedung Putih, dan terakhir proposal Demokrat yang didukung oleh Ketua DPR Nancy Pelosi dan Pemimpin Demokrat Senat Chuck Schumer.

Saat ini, baik Menteri Keuangan Steven Mnuchin dan Ketua Fed Jerome Powell mendukung proposal bipartisan. Ketua Powell yang berbicara di sidang komite perbankan Senat berkata, “Saya berharap dapat meninjau bersama Anda keseluruhan paket. Saya pikir lebih banyak respons fiskal diperlukan.” ungkapnya melansir Kitco News.

Rebound emas kali ini juga menyisakan tanda tanya. Apakah reli emas akan berlanjut?

“Emas telah menjadi cahaya yang bersinar, dengan harga ditutup di atas EMA 5 hari untuk pertama kalinya sejak 11 November. Pertanyaannya adalah apakah harga dapat ke US$ 1.848 dan breakout rendah sebelumnya? Itulah level yang harus dicapai untuk menilai apakah ini lebih dari sekadar reli short-covering dan oversold, “kata Chris Weston kepala riset Pepperstone kepada Kitco.

TD Securities melihat peluang emas untuk terus naik hingga akhir tahun ke US$ 2.000/troy ons pada tahun 2021 sehubungan dengan ekspektasi inflasi.

“Mengingat suku bunga riil belum berhasil naik lebih jauh, sementara dolar terus mencetak posisi terendah baru dan Fed mengeluarkan nada akomodatif, kami memperkirakan bahwa pemulihan ekonomi yang berkelanjutan akan sekali lagi memicu minat investasi dalam emas sebagai aset lindung nilai inflasi,” kata TD Securities.

“Ini bisa menjadi peluang bullish untuk logam kuning saat kita menuju ke FOMC Desember, di mana kami berharap bahwa Fed akan melonggarkan dengan memperpanjang periode jatuh tempo rata-rata tertimbang dari pembelian Treasury-nya.” tambah TD Securities.

 

 

 

 

 

Sumber : cnbcindonesia.com
Gambar : Báo Gia Lai

BAGIKAN BERITA INI

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *