Duh! Eropa Ada yang Mau Lockdown Lagi, Harga Minyak Rontok

Harga minyak ambles lagi pagi ini, Jumat (2/10/2020) usai semalam melorot signifikan. Pandemi Covid-19 yang terus merebak membuat prospek permintaan kian melemah di saat pasokan di pasar bertambah membuat harga tertekan.

Pada 09.00 WIB, harga minyak mentah berjangka acuan internasional Brent turun 1,05% ke US$ 40,5/barel. Untuk acuan Amerika Serikat (AS) yakni West Texas Intermediate (WTI) harganya terkoreksi 1,06% ke US$ 38,31/barel.

Semalam, kedua kontrak minyak tersebut anjlok signifikan. Brent ambles 3,2% ke US$ 40,93/barel sementara WTI anjlok 3,7% ke US$ 38,72/barel.

“Sudah terbukti bahwa virus belum dapat dikontrol. Laju infeksi mengalami kenaikan, dan kematian global sudah menembus angka 1 juta yang mengindikasikan dunia kembali menjadi tempat yang suram” kata analis minyak PVM Tamas Varga, dilansir Reuters.

Kasus di AS sudah tembus angka 7,2 juta dengan 206 ribu angka kematian. Lonjakan kasus juga terjadi di Benua Biru. Di Spanyol misalnya, Madrid sebagai hot spot bakal lockdown lagi beberapa hari mendatang.

Kemudian di Rusia, walikota Moscow memerintahkan para pelaku usaha untuk membiarkan 30% dari stafnya bekerja dari rumah masing-masing. Lockdown dan pembatasan yang dilakukan ini menjadi momok yang mengerikan di pasar energi.

Permintaan minyak bisa ambles lagi. Jika berkaca pada kejadian bulan Maret dan April, permintaan minyak global langsung drop hampir 30% ketika lockdown yang masif diterapkan di banyak negara.

Dalam laporan terbarunya, Standard Chartered menyebutkan permintaan minyak bakal drop 9,03 juta barel per hari (bpd) tahun ini sebelum pulih dengan kenaikan 5,57 juta bpd tahun depan.

Peningkatan pasokan dari Organisasi Negara Eksportir Minyak (OPEC) di bulan September juga turut menekan harga. Berdasarkan survei yang dilakukan Reuters, ada kenaikan output OPEC 160 ribu bpd pada September dibandingkan bulan sebelumnya.

Kenaikan output tersebut didongkrak oleh peningkatan pasokan dari Libya dan Iran yang tak masuk ke dalam pakta pemangkasan OPEC dan aliansinya (OPEC+). Output minyak Libya naik menjadi 270 ribu bpd setelah blokade terhadap ladang minyaknya dibuka.

Data IHS Markit Commodities menyebutkan OPEC mengekspor 18,2 juta bpd pada September atau naik dari 17,53 juta bpd pada Agustus. Ekspor Arab Saudi kembali ke tingkat di atas 6,25 juta bpd.

Hal ini lah yang membuat harga minyak kembali drop belakangan ini. Selain memantau perkembangan pandemi dan pasokan minyak di pasar, investor juga tengah mencermati isu seputar kelanjutan stimulus bantuan Covid-19 AS.

Jika stimulus yang dikabarkan senilai US$ 2,2 triliun itu digelontorkan, maka ada sedikit harapan bahwa permintaan terhadap bahan bakar bakal sedikit terdongkrak. Namun tentu juga harus mempertimbangkan keberadaan wabah yang masih menjadi ancaman untuk mobilitas pubik.

Dalam survei Reuters, 40 analis dan ekonom sekarang melihat permintaan global menyusut 8 juta-9,8 juta bpd tahun ini, relatif membaik dibandingkan konsensus 8 juta-10 juta bpd bulan lalu.

Namun mereka memangkas prospek harga minyak tahun ini, dengan rata-rata perkiraan untuk patokan minyak mentah Brent di US$ 42,48 per barel untuk tahun 2020 turun dari perkiraan rata-rata US$ 42,75 bulan lalu.

Prospek harga minyak mentah AS 2020 berada di US$ 38,70 per barel versus US$ 38,82 yang diperkirakan pada bulan Agustus.

 

 

 

 

 

Sumber : cnbcindonesia.com
Gambar : CNBC Indonesia

BAGIKAN BERITA INI
  •  
  •  
  •  

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *