Giliran Emas yang Guncang, Naik Turun Bak Roller Coaster

Usai melesat kemarin, harga emas global di pasar spot pagi ini melemah terindikasi adanya profit taking di tengah pandemi virus corona (COVID-19) yang menjadi ancaman paling serius terhadap perekonomian global.

Kemarin, harga emas dunia di pasar spot naik 0,97% ditutup di US$ 1.613,29/troy ons kala pasar saham AS ditutup menguat tetapi rilis data ekonomi AS justru menunjukkan hal yang buruk. Pagi ini, harga emas di pasar spot turun 0,34% ke level US$ 1.623,46/troy ons.

Rilis data ekonomi AS yang mulai memperlihatkan dampak pandemi COVID-19. Departemen Tenaga Kerja AS pada Kamis kemarin melaporkan klaim tunjangan pengangguran naik menjadi lebih dari 3 juta klaim dalam sepekan yang berakhir 21 Maret.

“Akan ada lebih banyak negara yang diharapkan merilis paket stimulus bagi perekonomian mereka, dan ini merupakan peristiwa besar bagi emas. Selain itu, dengan klaim pengangguran yang melonjak di AS, seolah memberi tahu para investor bahwa quantitative easing (QE) akan berumur panjang,” kata Michael Matousek, kepala trader di Investor Global AS, melansir Reuters.

Bank-bank sentral seperti The Fed telah memulai program pelonggaran kuantitatif (QE), atau pembelian besar-besaran obligasi pemerintah dan aset keuangan lainnya untuk memompa uang ke dalam perekonomian.

Harga emas meroket setelah bank sentral AS, The Fed mengumumkan program pembelian aset atau quantitative easing (QE) dengan nilai tak terbatas.

Pada QE kali ini, The Fed tak hanya membeli obligasi pemerintah dan efek beragun aset (EBA) properti saja, tetapi juga akan membeli obligasi korporasi dengan rating ‘investment grade’ dan exchange traded fund (ETF)-nya.

Langkah The Fed ini merupakan terobosan baru yang diambil guna meredam dampak wabah COVID-19 yang kini terus merebak terhadap perekonomian Paman Sam.

Kondisi saat ini memang masih tak kondusif. Wabah COVID-19 yang jadi ancaman perekonomian dunia masih terus memakan korban. Saat ini wabah COVID-19 sudah menjangkiti lebih dari 531 ribu orang di hampir semua negara di dunia.

Walau risk appetite akhir-akhir ini mulai naik yang tercermin dari penguatan di pasar saham, hal ini tak langsung menunjukkan bahwa semua sudah kembali normal mengingat ancaman masih ada.

Emas yang selama ini dikenal sebagai aset safe haven kini beralih fungsinya menjadi sumber likuiditas untuk sementara ini. Emas yang sudah naik tinggi pun mulai kena aksi profit taking.

Pergerakan harga emas bak roller coaster dengan sudut yang tajam. Pada periode 11-26 Maret, harga emas bergerak di rentang US$ 1.469,8/troy ons di level terendah dan US$ 1.634,52/troy ons di level tertinggi. Rentang pergerakan harga emas mengacu pada posisi penutupan ini jauh lebih lebar dari perdagangan periode sebelumnya saat COVID-19 belum disahkan jadi pandemi.

 

 

 

 

 

Sumber : cnbcindonesia.com
Gambar : BeritaSatu.com

 

 

 

 

[social_warfare buttons=”Facebook,Pinterest,LinkedIn,Twitter,Total”]

BAGIKAN BERITA INI

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *