Usai Libur Natal, Yen Langsung Terkapar

Nilai tukar yen melemah melawan dolar Amerika Serikat (AS) pada perdagangan Kamis (26/12/2019). Pergerakan di awal perdagangan hari ini cukup besar dibandingkan 2 hari sebelum Natal. Pada pukul 9:16 WIB, yen diperdagangkan di level US$ 109,54/US$ melemah 0,17% di pasar spot, melansir data Refinitiv.

Sebelum libur Natal 2 hari terakhir, kabar bagus terkait kesepakatan dagang fase I AS dengan China terus berdatangan, dampaknya sentiment pelaku pasar membaik dan bursa saham melesat naik. Bursa saham AS (Wall Street) bahkan mencetak rekor tertinggi di awal pekan, sebelum terkoreksi tipis pada perdagangan Selasa (24/12/2019).

Di saat bursa bursa saham menguat, yen yang merupakan aset aman (safe haven) menjadi kurang menarik dan nilainya akan melemah. Kesepakatan dagang fase I AS-China sepertinya akan ditandatangani dalam waktu dekat.

Pada Jumat (20/12/2019) pekan lalu, Presiden AS Donald Trump melalui akun Twitternya menyatakan melakukan “pembicaraan yang sangat baik” dengan Presiden China, Xi Jinping. Hal tersebut menambah optimisme pelaku pasar kesepakatan dagang fase I segera diteken.

Presiden Trump, juga menyatakan kesepakatan dagang akan ditandatangani dalam waktu dekat. “Kami sudah mencapai terobosan terkait kesepakatan dagang. Penandatanganan akan dilakukan dalam waktu yang sangat dekat,” ungkap Trump di acara Turning Point USA di Florida, seperti dikutip dari Reuters.

Pada Senin (23/12/2019) giliran China yang mengirim kabar bagus. CNBC International melaporkan Negeri Tiongkok akan menurunkan bea masuk terhadap 850 produk dari AS mulai 1 Januari.

Kemudian sehari setelahnya, Presiden Trump kembali memberikan pernyataan yang menyebut kesepakatan dagang fase I sudah hampir selesai, dan akan ada upacara penandatanganan dengan Presiden China Xi Jinping.

“Ya, kami akan mengadakan upacara penandatanganan,” kata Trump kepada wartawan, seperti dilansir dari Reuters.

Penandatangan kesepakatan dagang fase I akan menjadi awal berakhirnya perang dagang A-China yang sudah berlangsung dalam 18 bulan terakhir. Ekonomi kedua negara mengalami pelambatan, dan turut menyeret turun perekonomian global.

Dengan berakhirnya perang dagang, ekonomi global diperkirakan akan membaik di tahun depan, yang membuat sentimen pelaku pasar membaik dan memburu aset-aset berisiko.

 

Sumber : CNBC INDONESIA
Gambar : inforexnews.com

 

[social_warfare buttons=”Facebook,Pinterest,LinkedIn,Twitter,Total”]

BAGIKAN BERITA INI

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *