Dolar Dominan, PM Malaysia Usulkan Mata Uang Tunggal Asia

 

Wacana mata uang tunggal di Asia kembali mengemuka. Dalam forum Future of Asia yang diadakan oleh Nikkei di Tokyo, Kamis (30/5/2019), Perdana Menteri Malaysia Mahathir Bin Mohamad kembali menyinggung perlunya mata uang bersama di Asia Timur berdasarkan emas.

Mahathir tercatat telah kedua kali membuka perdebatan gagasan memiliki mata uang bersama di Asia Timur ini. “Saat ini, kami harus bergantung pada dolar AS, tetapi dolar AS juga tidak stabil. Jadi mata uang yang kami usulkan harus berbasis emas, karena emas jauh lebih stabil, ” jelasnya dilansir Business Insider, dikutip Jumat (31/5/2019).

Salah satu perdana menteri tertua di dunia ini (94 tahun), menambahkan bahwa keterikatan mata uang negara Asia dengan dolar AS membuat mata uang rentan terhadap manipulasi valuta asing alias forex.

Ketika ditanya apakah gagasan ini muncul karena Malaysia masuk ke daftar pantauan AS tentang manipulasi dan praktik mata uang, Mahathir mengatakan “tidak”.

“Itulah masalahnya. Jika ada negara yang akan diturunkan atau ditambahkan [ke daftar ‘hitam’], itu harus dilakukan oleh beberapa forum internasional tanpa komitmen – bukan oleh negara mana pun.” “Itu bukan untuk diputuskan oleh kekuatan tunggal,” katanya menyindir negeri Adidaya, AS.

Sebelumnya perdebatan mata uang tunggal ini pernah mengemuka beberapa tahun lalu. Pelemahan nilai tukar mata uang sejumlah negara di Asia Tenggara (ASEAN) dalam beberapa bulan terakhir dinilai menjadi alasan kuat berlakunya mata uang tunggal ASEAN.

Namun dalam forum The Launch of Lifting The Barriers Reports di Jakarta, pada 4 September 2013, yang digelar Asean Business Club (ABC),

CEO CIMB Group, Nazir Razak, mengatakan bahwa stabilisasi mata uang sangat penting dalam aktivitas perekonomian sebuah negara. Namun harmonisasi atau penyatuan mata uang negara ASEAN tak lantas perlu diterapkan. “Mereka [ASEAN] lebih membutuhkan penghapusan bea masuk impor,” ungkapnya, dikutip ABC.

Rencana ini pun tidak berjalan karena belum ada semangat menggabungkan mata uang ASEAN sebagaimana terjadi di Uni Eropa dengan mata uang euro yang dirilis pada 1 Januari 1999.

Menurut Nazir, penyatuan mata uang ASEAN tidak dibutuhkan pengusaha.

Sebelumnya, terkait dengan perang dagang AS-China,Mahathir yang pernah menjabat perdana menteri terlama ini (1981-2003), mendesak agar permasalahan antara negara lain, termasuk AS dengan China semestinya bisa diselesaikan melalui negosiasi dan bukan dengan kekerasan.

“Kita masing-masing dan setiap orang [setiap negara] harus membuat pengorbanan,” katanya.

Menurut dia, demi terwujudnya tatanan dunia baru, negara-negara harus membawa semua masalah pada diskusi bersama dan bersedia menyerahkan sesuatu untuk situasi yang saling menguntungkan.

“Situasi win-win tidak berarti bahwa kita mendapatkan semua yang kita minta. Itu artinya kita harus mengorbankan sesuatu agar pihak lain juga mau berkorban,” tegasnya.

 

 

 

 

 

Sumber : Cnbcindonesia.com
Gambar : The Hindu

 

 

 

 

[social_warfare buttons=”Facebook,Pinterest,LinkedIn,Twitter,Total”]

 

BAGIKAN BERITA INI

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *