Mantan Wali Kota San Salvador Diunggulkan Menang Pemilihan

Warga El Salvador memberikan suara pada putaran pertama pemilu presiden, kemarin. Calon presiden (capres) Nayib Bukele, 37, diunggulkan menang dalam pemilu tersebut.

Bukele merupakan mantan wali kota yang mendorong pemberantasan korupsi. Kemenangannya dalam pemilu itu dapat mengakhiri sistem dua partai yang berlaku di negara itu selama puluhan tahun.

Dia memanfaatkan keinginan rakyat El Salvador untuk perubahan dan mendorong ide antikemapanan. Para pemilih juga sudah bosan dengan para capres dari partai-partai utama selama ini.

Sejak berakhirnya perang sipil pada 1992, El Salvador dipimpin pemerintahan dari hanya dua partai, yakni sayap kiri yang berkuasa Front Pembebasan Nasional Farabundo Marti (FMLN) dan lawannya kubu konservatif Aliansi Republikan Nasionalis (ARENA).

Meski Bukele menyebut dirinya dari sayap kiri dan diusir dari FMLN, dia membentuk koalisi dengan berbagai partai termasuk sayap kanan.

Dengan koalisi itu dia dapat memperoleh sekitar 11 kursi di legislatif. Lembaga survei Mitofsky menyatakan pada polling bulan lalu bahwa Bukele memiliki dukungan 57%.
Adapun survei Gallup menunjukkan dia meraih 42% suara. Kedua survei itu menunjukkan capres dari ARENA Carlos Calleja di urutan kedua.

Jika tak ada capres yang menang lebih dari 50% suara pada pemilu kemarin, dua kandidat akan maju ke putaran terakhir pada Maret.

Presiden baru El Salvador akan menghadapi berbagai serangan kata-kata dari Presiden Amerika Serikat (AS) Donald Trump terhadap negara-negara Amerika Tengah karena dianggap tidak berbuat banyak mencegah migrasi.

El Salvador juga harus menghadapi reaksi AS terkait hubungan diplomatik yang baru dibangun dengan China. Pemerintahan baru juga harus membangkitkan perekonomian, memerangi korupsi dan mengatasi tingkat bunuh diri yang termasuk salah satu yang terbesar di dunia.

“Nayib Bukele orang luar biasa dan berbagai programnya sangat hebat,” kata Maria Amaya, 42, ibu rumah tangga yang kini mendukung Bukele setelah sebelumnya selalu memilih FMLN. Amaya menambahkan, “Kami telah bosan dengan sangat banyak korupsi, FMLN dan AREAN sudah memiliki waktu untuk melakukan sesuatu dan mereka tidak melakukannya.”

 

 

 

 

Sumber : sindonews.com
Gambar : elsalvadorgram

 

 

 

[social_warfare buttons=”Facebook,Pinterest,LinkedIn,Twitter,Total”]

BAGIKAN BERITA INI

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *