Hasil Pemilu Sela AS Mulai Terbaca, Rupiah Terpeleseta

Nilai tukar rupiah terhadap dolar Amerika Serikat (AS) memang masih menguat. Namun penguatan rupiah menipis cukup tajam, seiring mulai terlihatnya hasil pemilihan sela di Negeri Paman Sam.

Pada Rabu (6/11/2017) pukul 09:14 WIB, US$ 1 di pasar spot ditransaksikan di Rp 14.790. Rupiah masih menguat 0,07% dibandingkan posisi penutupan perdagangan hari sebelumnya.

Akan tetapi, apresiasi rupiah berkurang dengan sangat tajam. Sesaat setelah pembukaan pasar, rupiah sempat menguat hingga 0,51% di hadapan greenback.

Dolar AS yang sempat tertekan lumayan hebat kini mulai menemukan pegangan. Dollar Index (yang mengukur posisi greenback di hadapan enam mata uang utama dunia) masih melemah tipis 0,05% pada pukul 09:02 WIB. Berkebalikan dengan rupiah, pelemahan indeks ini semakin berkurang karena awalnya sempat terkoreksi hingga di kisaran 0,3%.

Sepertinya investor mulai percaya diri untuk kembali mengoleksi dolar AS. Hasil pemilihan sela di AS mulai terlihat, dan meski masih sangat awal tetapi Partai Republik memimpin peroleh kursi di House of Representative dan Senat AS.

Pada pukul 09:04 WIB, dari 110 kursi Senat yang diperebutkan sudah ada 77 yang terisi atau 70%. Hasilnya, Partai Republik meraih 43 kursi (43%) sementara Partai Demokrat memperoleh 33 kursi (33%). Senat sepertinya masih dikuasai Grand Old Party, tidak ada perubahan.

Hasil mengejutkan terlihat di perolehan suara untuk House. Pada pukul 09:06 WIB, ada 90 kursi yang sudah sah dari 435 yang diperebutkan atau 20,69%. Dari 90 kursi itu, Partai Republik memimpin dengan jumlah 50 kursi (11,5%) dan Partai Demokrat merengkuh 40 kursi (9,2%).

Perolehan suara di House sejauh ini memutarbalikkan perkiraan bahwa Partai Demokrat akan mendominasi. Jika hasil ini bertahan sampai final, maka peta politik AS tidak akan berubah yaitu tetap dikuasai oleh partai berlambang gajah.

Pelaku pasar bisa bernafas lega karena mulai ada kepastian di Negeri Adidaya. Dominasi Partai Republik, seperti yang terjadi dalam 2 tahun terakhir, menegaskan bahwa kebijakan pemerintahan Presiden Donald Trump tetap akan berjalan sesuai rencana.

Meski Trump adalah figur yang penuh kontroversi, tetapi harus diakui kebijakannya sangat pro pasar. Kebijakan Trump yang sangat membantu pasar adalah dengan memangkas tarif Pajak Penghasilan (PPh) sehingga korporasi dan masyarakat AS meningkatkan belanja dan investasinya.

Selama Trump berkantor di Gedung Putih, Wall Street menguat sekitar 20%. Salah satu pendorongnya adalah kinerja emiten yang kinclong karena lonjakan laba bersih akibat pemotongan tarif PPh.

Peta politik AS yang mulai terbaca membuat pelaku pasar mulai meninggalkan posisi wait and see. Arus modal kembali merapat ke dolar AS sehingga perlahan tapi pasti mata uang ini bangkit dari keterpurukan.

Akibatnya, mata uang Benua Kuning kini mulai kelabakan. Penguatan rupiah semakin tipis, dan beberapa mata uang Asia pun melemah di hadapan dolar AS.

 

 

 

Sumber : CNBC Indonesia
Gambar : tribunnews.com

 

 

 

 

[social_warfare buttons=”Facebook,Pinterest,LinkedIn,Twitter,Total”]

BAGIKAN BERITA INI

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *