Kebijakan Moneter Ultra-Longgar Naikkan Risiko Bank Jepang

Kebijakan moneter ultra longgar yang diterapkan Jepang mungkin telah menciptakan overheating pada beberapa industri karena meningkatnya spekulasi. Hal ini diungkapkan Bank of Japan (BoJ), Senin (22/10/2018).

Dalam laporan semi tahunan sistem keuangan, BoJ mengatakan saat ini belum terlihat kenaikan risiko secara berlebihan di lembaga keuangan Jepang.

Namun, BoJ memperingatkan kebijakan perbankan untuk memberikan pinjaman pada sektor real estate dan pinjaman kepada peminjam berisiko menengah atau perusahaan dengan risiko kredit tinggi bisa membahayakan bank.

Laporan tersebut juga mengatakan bahwa sementara ini sistem perbankan tetap stabil, meski ada perbedaan pertumbuhan profitabilitas di antara sekitar 100 bank regional Jepang.

“Rasio modal inti untuk bank domestik telah menurun secara bertahap baru-baru ini karena perbankan berusaha mencetak keuntungan yang sesuai dengan risiko,” tulis BOJ dalam laporan yang dikeluarkan pada Senin (22/10/2018).

“Pada saat kondisi tidak normal, tekanan pada ekonomi dari sistem keuangan, bisa membuat penurunan aturan pengambilan risiko lembaga keuangan, dan dapat mengintensifkan risiko lebih dari di masa lalu,” tulis BOJ.

Beberapa lembaga keuangan juga meningkatkan pinjaman berisiko tinggi ke luar negeri karena persaingan yang semakin ketat, yang dapat membuat neraca mereka rentan terhadap kenaikan tajam suku bunga luar negeri, tulis BOJ.

Indeks yang mengukur pengambilan risiko berlebih menunjukkan aktivitas keuangan seperti itu pernah terjadi pada 1990, ketika Jepang mengalami ledakan gelembung aset.

Laporan itu telah menarik perhatian karena BOJ secara terbuka memperingatkan tentang semakin memburuknya program stimulus besar-besaran bank sentral, seperti memukul laba tahunan bank yang pertumbuhannya mendekati nol.

Menghadapi masalah ini, BOJ mengambil langkah pada Juli lalu dengan membuat kerangka kebijakannya seperti memungkinkan imbal hasil obligasi untuk bergerak lebih fleksibel di sekitar target nol persennya.

Laporan itu akan menjadi salah satu faktor yang dipertimbangkan BOJ dalam rapat tanggal 30-31 tentang suku bunga acuan.

Banyak bank regional Jepang berjuang menciptakan keuntungan dari bisnis pinjaman tradisional mereka dan telah menyalahkan kebijakan ultra-longgar BOJ akan masalah ini.

Beberapa dari mereka telah mengalihkan target investasi mereka ke aset berisiko, seperti obligasi asing, untuk mengimbangi melemahnya laba bisnis inti mereka. Tetapi strategi ini telah menemui tantangan dengan meningkatnya suku bunga AS yang menekan harga obligasi.

 

 

 

 

Sumber : CNBCIndonesia.com
Gambar : Seputar Forex

 

 

 

[social_warfare buttons=”Facebook,Pinterest,LinkedIn,Twitter,Total”]

BAGIKAN BERITA INI

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *