Kantor Anggaran Kongres AS Pangkas Proyeksi Pertumbuhan Ekonomi Negeri Paman Sam

Kantor Anggaran Kongres (CBO) AS menurunkan perkiraan pertumbuhan ekonomi AS untuk tahun ini. Pasalnya, ketidakpastian semakin meningkat akibat rencana AS yang ingin menaikkan pengenaan tarif impor produk. CBO mengumumkan, perekonomian AS diperkirakan tumbuh 3,1% pada tahun ini, atau turun dari yang diperkirakan sebelumnya sebesar 3,3%.

Selanjutnya, ekspansi pertumbuhan tersebut akan melemah menjadi 2,4% pada tahun depan, atau tidak berubah dari perkiraan pada April, karena perlambatan pertumbuhan di dalam investasi bisnis dan pembelian pemerintah. “Kendati terjadi volatilitas di dalam pertumbuhan produk domestik bruto [PDB] pada kuartal pertama dan kedua tahun ini, CBO memperkirakan momentum yang menopang pertumbuhan tersebut akan terus berlanjut hingga paruh kedua tahun ini. Selanjutnya, laju tersebut akan melambat secara gradual untuk beberapa tahun ke depan,” tulis CBO seperti dikutip Bloomberg, Selasa (14/8).

Adapun, dalam outlook ekonomi jangka panjang yang dirilis pada April, CBO menunjukkan defisit anggaran AS akan mencapai US$1 triliun pada 2020, atau naik dari US$804 miliar pada tahun fiskal ini dan US$981 miliar pada tahun fiskal depan. Hal itu disebabkan oleh pemangkasan pajak dari Pemerintahan Trump dan peningkatan anggaran sebesar US$300 miliar yang berpotensi memperlebar defisit anggaran pemerintah.

Selisih anggaran pun diperkirakan melebar hingga lebih dari 20% menjadi US$684 miliar pada 10 bulan pertama di tahun fiskal ini, disebabkan oleh menurunnya pendapatan dari korporasi. Sementara itu, Pemerintahan Trump menyebut laju pertumbuhan ekonomi yang ditopang oleh pemangkasan pajak dapat meningkatkan pendapatan federal untuk beberapa waktu. Hal itu diperlihatkan oleh ekspansi ekonomi pada kuartal II/2018 sebesar 4,1% dan merupakan yang terkuat sejak 2014. Perolehan tersebut pun lebih baik daripada 2,2% pada kuartal pertama tahun ini.

Sementara itu, tingkat pengangguran AS juga berhasil mencapai level terendahnya dalam 50 tahun dan pertumbuhan PDB riil mencapai 2,6% pada tahun lalu. Kondisi ekonomi seperti ini pun semakin memperkuat langkah The Fed untuk mengerek suku bunga hingga dua kali lagi sampai akhir tahun. CBO melanjutkan, permintaan yang berlebih diperkirakan dapat mengangkat inflasi dan juga semakin mendorong kenaikan suku bunga. Namun, CBO mengingatkan, pertumbuhan ekonomi AS akan melemah ke rata-rata 1,6% dalam rentang 2020 – 2022.

Adapun, risiko untuk perekonomian AS masih berasal dari tensi perdagangan dengan sejumlah negara mitra dagang. Sebelumnya, Dana Moneter Internasional (IMF) telah mengingatkan Presiden AS Donald Trump terkait kampanye tarif dan potensi retaliasi dari negara lain dapat merusak sistem perdagangan global. Untuk China sendiri, AS akan mengenakan tarif sebesar 25% untuk produk impor yang senilai US$50 miliar per 23 Agustus 2018. Tarif tersebut pun memicu retaliasi dari China yang kemudian dibalas lagi oleh AS dengan rencana memberlakukan tarif untuk produk impor senilai US$200 miliar pada bulan depan.

Adapun pada awal tahun ini, AS juga telah mengenakan tarif untuk baja, aluminium, mesin cuci, dan panel surya yang banyak diimpor dari China. “Perubahan kebijakan yang baru-baru ini diimplementasikan untuk perdagangan, dan proposal yang mengajukan tarif, memperluas ketidakpastian untuk outlook ekonomi,” tulis CBO.

 

 

 

 

 

Sumber Berita : bisnis,com
Sumber foto : bisnis.com

 

 

 

[social_warfare buttons = “Facebook, Pinterest, LinkedIn, Twitter, Total”]

BAGIKAN BERITA INI

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *